Dua remaja dan pemuda Makassar, Sulawesi
Selatan, jadi korban media sosial Facebook, Minggu (12/6/2016).
Si remaja yang berinisial AL (14) adalah siswi sekolah
menengah pertama swasta, sedangkan si pemuda bernama Jumaidi (19) adalah
mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Makassar.
AL mengaku telah diperkosa oleh Jumaidi di kamar indekos,
tempat ngontrak si mahasiswa, di Jl Bung, Tamalanrea, Makassar.
Padahal keduanya belum lama kenal, bahkan baru ketemu di
“dunia nyata” (kopi darat), setelah
“pacaran” di Facebook.
Kedua remaja dan pemuda itu seakan tak peduli mereka sudah
berada dalam Ramadan.
Keduanya masih asyik berbincang “cinta” yang berujung pada
temu berdua dalam kamar indekos.
Pengamat medsos, Hidayat Nahwi Rasul, menyebut AL dan
Jumaidi sebagai korban pustaka pornografi.
Menurut Presiden Telematika Kawasan Timur Indonesia (KTI)
dan Tim Panel Whitelist Nusantara Kementerian Komunikasi Informasi (Kominfo)
itu, hegemon pornografi di media lama dan media baru tersebut telah membentuk
pustaka pornografi dalam otak anak-anak remaja.
“Tingginya intensitas komunikasi di media sosial
antarnitizen akan berimplikasi pada kejadian-kejadian seperti yang dialami
kedua remaja itu,” kata Hidayat.
Analis media sosial, Anwar Abugaza, mengatakan, pengguna
facebook usia 9-14 dan 14-19 hanya sedikit yang memperbincangkan suasana
Ramadan.
Mereka tetap larut membahas hubungan dan percintaan di Bulan
Suci umat Islam ini.
Kenalan Baru
AL adalah kenalan baru Jumaidi di Facebook.
Baru empat hari mereka berteman FB.
AL menerima permintaan pertemanan Jumaidi pada Rabu
(8/6/2016), hari ketiga Ramadan.
Dalam rentan 4x24 jam, Jumaidi melancarkan pesan mesra ke
AL. Hasilnya, AL takluk di hari keempat, Minggu (12/6/2016).
"Awalnya saya kenalan sama dia di Facebook, terus saya
ajak ketemuan tadi (kemarin) pagi," kata Jumaidi di Markas Kepolisian
Resor (Mapolsek) Rappocini, Makassar.
Jumaidi digelandang ke Mapolsek dalam kondisi babak-belur
setelah dihajar oleh kerabat AL.
Ayah AL, Harianto (39), berinisiatif mengamankan Jumaidi ke
kantor polisi untuk menghindarkan mahasiswa asal Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah
itu dari situasi yang lebih buruk akibat amarah kerabat mendengar pengakuan
siswi SMP itu telah diperkosa.
"Saya kenal dia baru sekitar empat hari di facebook,"
kata AL di Mapolsek Rappocini.
Dari perkenalannya itu, keduanya semakin akrab, lalu mulai
saling bertukar nomor handphone, hingga sepakat untuk bertemu.
"Kami bertukar nomor handphone, lalu sejak saat itu dia
selalu menelpon dan sms minta untuk ketemuan, jadi kami janjian tadi,"
jelas AL.
Gulung Mukena
Dalam kondisi babak-belur, Jumaidi masih lancar menceritakan
sepak-terjangnya di media sosial dan bagaimana dia memperdaya AL.
Dia mengaku, setelah kenalan di FB dan tukar nomor telepon,
serangan “asmara” dia gencarkan juga lewat pesan singkat (SMS).
Setelah sukses menaklukkan hari AL, keduanya janjian ketemu
di depan salah satu masjid di Jl Rappocini, Makassar, tak jauh dari rumah
Harianto.
Jumaidi “bela-belain” dari Jl Bung, di sekitar Kampus
Universitas Hasanuddin (Unhas), Tamalanrea, Makassar, ke Rappocini, usai sahur.
Setelah AL keluar masih, usai Salat Subuh, dia berjalan ke
tempat dia janjian dengan Jumaidi bersama sepupunya.
Jumaidi sudah standby di motor ketika AL dan sepupunya
datang dengan mukena salat, serba putih.
“Ayo, kita jalan-jalan ke Pantai Losari,” ajak Jumaidi.
Awalnya AL ragu tapi lagi-lagi Jumaidi menunjukkan
kelihaiannya.
AL akhirnya manut. Dia meninggalkan sepupuhnya dan
membonceng Jumaidi. Mukena salat dia gulung.
Sejurus kemudian, AL sudah memegang pinggang Jumaidi, motor
menderu ke Jl AP Pettarani, bersamaan ribuan umat Muslim lainnya yang menikmati
suasana pagi di hari ke-7 Ramadan.
Di depan flyover, Jumaidi tidak belok kiri, jalur ke Pantai
Losari. Dia langsung tancap gas ke kanan, jalur ke pondokannya.
Dihajar Kerabat
Tiba di kamar indekos, sebagian penghuni pondokan masih “di
luar”, yang lain sudah tertidur.
Jumaidi melancarkan siasat gombal. AL lagi-lagi terpedaya.
Sambil berbaring, Jumaidi terus menggombal AL, yang juga
sudah berbaring dalam kamar indekos itu.
Tiba-tiba, Jumaidi sudah berada di atas tubuh AL. Dalam
tempo singkat, AL “sudah dia renggut”.
"Awalnya hanya cerita-cerita saja, tapi ketika saya
baring, dia langsung naik ke atas saya dan memaksa begituan (berhubungan
badan)," kata AL.
Setelah “beraksi”, Jumaidi mengantar AL. Tapi dia tidak
membawa remaja ini ke rumahnya, AL dia turunkan dari motor di sekitar flyover.
Jumaidi kembali ke pondokan dan langsung tertidur pulas nan
puas.
AL menangis ditinggal sendiri di flyover, setelah
“segalanya” telah direnggut oleh Jumaidi.
Sambil menangis, AL menelepon Harianto.
Dia tumpahkan isi hatinya pada sang ayah via telepon.
Harianto datang bersama kerabat, mengendarai tiga unit
sepeda motor, menjemput AL lalu langsung “menggerebek” Jumaidi di pondokan.
Jumaidi yang tertidur pulas tak berkutik ketika dibangunkan
oleh Harianto cs.
Jumaidi jadi bulan-bulanan amarah.
"Saya ndak perkosa, Pak. Cuma saya ajak bicara-bicara
saja," kata Jumaidi berusaha menenangkan keluarga AL. Tapi mereka telanjur
marah, Jumaidi babak belur.
Jumaidi kemudian digiring ke Polsekta Rappocini oleh
Harianto cs.(*)

0 komentar:
Post a Comment